BAB I
PENDAHULUAN
Latar Belakang Masalah
Belajar adalah proses atau usaha yang
dilakukan tiap individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baik
dalam bentuk pengetahuan, keterampilan maupun sikap dan nilai yang positif
sebagai pengalaman untuk mendapatkan sejumlah kesan dari bahan yang telah
dipelajari. Sedangkan bahasa diartikan sebagai sebuah sistem lambang, berupa
bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam dan manusiawi. Kita sebagai
makhluk hidup tentunya perlu yang namanya belajar dan berbahasa. Karena dengan
belajar kita mendapatkan banyak pengetahuan dan dapat meningkatkan kualitas
diri kita. Selian itu berbahasa juga sangat lah berpengaruh dalam kehidupan,
karena dengan berbahasa kita bisa berinteraksi dengan lingkungan sekitar.
Dalam pembelajaran bahasa ada beberapa teori yang mempunyai
perbedaan dalam pendapat masing-masing, dan merekan mempunyai dasar yang mampu
menguatkan pendapat mereka.Adapun kelompok yang berpendapat tentang teori
belajar bahasa, pertama teori behavioris yang berorientasi pada psikologi
behaviorisme, yang kedua teori generatif yang berdasarkan pada teori nativisme
dan teori kognitivisme, dan yang ketiga teori fungsional yang mengacu pada
teori psikologi konstruktivisme.
Ketiga teori tersebut mempunyai pengaruh yang besar dalam
ilmu bahasa yang berkaitan erat dengan pemerolehan bahasa atau pemebelajaran
bahasa. Berdasar pada ketiga teori tersebut, maka dalam makalah ini akan
dijelaskan mengenai ketiga teori tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN
1. Teori Behavioris
Behaviorisme adalah salah satu
aliran psikologi yang berpengaruh di masyarakat. Behaviorisme mengikuti metode
eksperimen penelitian ilmiah yang menjadi perhatian adalah segala hal yang
dapat diamati secara ilmiah. Kaum behavioris berpendapat bahwa bahasa merupakan
bagian fundamental dari keseluruhan perilaku manusia. Pendapat ini diperkuat
oleh Jenkins dan Palermo (1964), yang menyatakan bahwa anak mungkin memperoleh
kerangka tata bahasa struktur frase dan belajar ekuivalensi stimulus respon
yang dapat diganti dalam tiap kerangka. Imitasi merupakan sesuatu yang penting
karena untuk menentukan hubungan stimulus respon.
Pendapat para ahli psikologi
behaviorisme yang menekankan pada observasi empiric dan metode ilmiah hanya
dapat menjelaskan keajaiban pemerolehan bahasa dan ranah kajian bahasa yang
sangat luas belum dapat tersentuh dan hanya dapat digali dengan pendekatan yang
lebih dalam.
2. Teori Generatif
Teori generatif menggunakan
pendekatan rasionalitik, maksudnya adalah mencari penjelasan yang gamblang dan
jelas tentang rahasia pemerolahan dan belajar bahasa. Ada dua tipe teori
generatif yang dikenal dalam penelitian bahasa, kedua teori tersebut yaitu:
a.
Nativisme
Istilah nativisme muncul dari pernyataan bahwa pembelajaran
bahasa ditentukan oleh bakat. Sejak manusia lahir itu sudah memiliki bakat
untuk memperoleh dan belajar bahasa. Teori tentang bakat bahasa ini mendapatkan
banyak penguatan, salah satunya Eric Lenneberg (1967) bahwa bahasa itu
merupakan perilaku khusus manusia dan bahwa cara pemahaman tertentu,
pengkategorian kemampuan, dan mekanisme bahasa lain yang berhubungan ditentukan
secara biologis. Chomsky (1965) menyatakan bahwa eksisitensi bakat tersebut
bermanfaat untuk menjelaskan rahasia penguasaan bahasa pertama anak dalam waktu
yang singkat. Selain itu, Chomsky juga menyatakan bahwa bakat bahasa itu
terdapat dalam kotak hitam (black box) yang disebutnya sebagai language
acquisition device (LAD) atau piranti pemerolehan bahasa.
McNeill mendeskripsikan LAD terdiri atas empat bakat bahasa,
yakni:
·
Kemampuan
membedakan bunyi ujaran dengan bunyi yang lain dalam lingkungannya.
·
Kemampuan
mengorganisasikan peristiwa bahasa ke dalam variasi yang beragam.
·
Pengetahuan
adanya sistem bahasa tertentu yang mungkin dan sistem yang lain yang tidak
mungkin.
·
Kemampuan
untuk tetap mengevaluasi sistem perkembangan bahasa yang membentuk sistem yang
mungkin dengan cara yang paling sederhana dari data kebahasaan yang diperoleh.
Untuk memahami dengan baik konsep ini, diperlukan praktek
dengan anak-anak yang ada di lingkungan sekitar. Misalnya anak yang berusia 2,5
tahun sudah mampu membedakan bunyi bahasa yang berasal dari alat ucap manusia
dengan bunyi lain, yaitu bunyi tokek, anjing, kucing dll. Hal ini membuktikan
bahwa manusia telah diakaruniai bakat sejak lahir, kemampuan untuk dapat
membedakan bunyi bahasa dengan bunyi-bunyi lain yang ada di sekitarnya.
Kemampuan manusia yang ada sejak lahir yaitu bakat memilki pengetahuan
tentang kalimat yang mungkin dan yang tidak mungkin bisa dicontohkan saat anak
dininabobokkan yaitu anak mampu mengganti “digigit nyamuk” dengan “dididit aum”
(aum maksudnya harimau). Selain itu kemampuan untuk membedakan kalimat yang
gramatikal dan kalimat yang tidak gramatikal juda meruupakan bakat bawaan
manusia. Kemudian dalam perkembangannya manusia juga mengevaluasi sistem bahasa
yang diujarkan secara terus-menerus yang pada akhirnya menjdi bentuk yang
diterima oleh lingkungan, contohnya adalah ketika anak masih kecil belum mampu
untuk mengucapkan bunyi (L, R) lambat laun ia akan terus berusaha untuk
mengucapkannya menjadi ucapan yang semestinya.
Argumantasi McNeill tentang LAD begitu tepat dan langsung
sasaran, karena menurutnya teori stimulus-respon itu terbatas, sehingga masalah
pemerolehan dan pembelajaran bahasa akan jauh dari jangkauan. Proposisi LAD
mengarah pada aspek rawan pemerolehan bahasa, yaitu aspek makna, keabstrakan,
dan kreativitas.
Kaum nativistis juga berpendapat bahwa bahasa anak adalah
sistem yang sah dalam sistem mereka. Perkembangan bahasa anak itu dalam setiap
tahapan itu sisitemik, maksudnya anak secara terus-menerus membentuk hipotesis
dengan dasar masukan yang diterimanya dankemudian mengujinya dalam ujarannya
sendiri dan pemahamannya. Selama bahasa anak itu berkembang, hipotesis itu akan
terus direvisi, dibentuk lagi secara konsisiten diucapkannya.
Jean Berko (1965) menunjukkan bahwa belajar bahasa itu bukan
sebagai urutan yang terpisah-pisah, tetapi sebagai system yang integral. Berko
melakukan penelitian dengan menggunakan tes kosakata yang tak bermakna, dan
menemukan bahwa anak berbicara bahasa Inggris sejak usia 4 tahun menerapkan
kaidah pembentukan jamak, present progressive, past tense, tunggal ketuga dan
posesif.
McNeill dan kawan-kawannya menyajikan tentang hakikat
pemerolehan bahasa anak secara sistemik. Tata bahasa merupakan representasi
formal dari struktur batin, struktur yang tidak terwujud secara nyata dalam
ujaran. Tata bahasa awal anak mengacu pada tata bahasa tumpu (pivot grammar).
Berdasarkan observasi, ujaran anak satu dua kata mula-mula merupakan perwujudan
dua kelas kata terpisah dan bukan hanya dua kata yang dilemparkan secara
bersamaan secara acak. Berikut adalah kaidah pertama bagi tata bahasa generatif.
Kalimat ------kata tumpu + kata
terbuka
Pendekatan nativisme kepada bahasa anak sekurang-kurangnya
mempunyai dua sumbangan penting untuk memahami proses pemerolehan bahasa
pertama, yakni:
1. Bebas dari keterbatasan metode
ilmiah untuk menjelajah sesuatu yang tidak tampak, tak dapat diobservasi,
berada di bawah permukaan, tersembunyi, struktur kebahasaan yang bastrak yang
dikembangkan oleh anak.
2. Deskripsi bahasa anak sebagai system
yang sah, taat kaidah, dan konsisten; dan
3. Konstruksi sejumlah kekayaan
potensian dari tata bahasa universal.
b.
Kognitivisme
Kerangka nativis pun masih
mempunyai kelemahan-kelemahan. Akhir tahun 60-an merupakan saksi pergeseran
kontinuum, tetapi bergerak lebih pada hakikat bahasa. Slobin (1971) mengatakan
bahwa dalam semua bahasa, belajar semantic bergantung pada perkembangan
kognitif. Urutan perkembangan itu lebih ditentukan oleh kompleksitas semantic
daripada kompleksitas struktural. Bloom (1976) menyatakan bahwa penjelasan
perkembangan bahasa bergantung pada penjelasan kognitif yang terselubung. Apa
yang diketahui anak akan menentukan kode yang dipelajarinya untuk memahami
pesan dan menyampaikannya.
3. Teori
Fungsional
Munculnya konstruktivisme dalam dunia psikologi, dalam
tahun-tahun terakhir ini menjadi lebih jelas bahwa fungsi bahasa berkembang
dengan baik di bawah gagasan kognitif dan struktur ingatan. Penelitian bahasa
anak-anak mulai memusatkan perhatiannya pada bagian linguistik yang paling
rawan, yakni fungsi bahasa dalam wacana. Gelombang baru ini merupakan revolusi
penelitian dalam pembelajaran dan pemerolehan bahasa. Jantung bahasa fungsi
komunikatif diteliti sampai dengan segala variabilitasnya.
Para peneliti mulai melihat bahwa bahasa merupakan
manifestasi kemampuan kognitif dan afektif untuk dapat menjelajah dunia, untuk
berhubungan dengan orang lain, dan juga untuk keperluan terhadap diri sendiri
sebagai manusia. Lebih lagi kaidah generatif yang diusulkan di bawah naungan
kerangka nativisme itu bersifat abstrak, formal, eksplisit, dan logis. Meskipun
sebenarnya kaidah itu lebih mengutamakan pada bentuk bahasa dan tidak pada tataran
fungsional yang lebih dalam dari makna yang dibentuk dari interaksi sosial.
a. Kognisi dan
Perkembangan Bahasa
Slobin
menyatakan bahwa dalam semua bahasa, belajar makna bergantung pada perkembangan
kognitif dan urutan perkembangannya lebih ditentukan oleh kompleksitas makna
itu daripada kompleksitas bentuknya. Menurut dia ada dua yang menentukan model,
yaitu:
1. Pada aras
fungsional, perkembangan diikuti oleh perkembangan kapasitas komunikatif dan
konseptual, yang beroperasi dalam konjungsi dengan skema batin kognisi.
2. Pada aras
formal, perkembangan diikuti oleh kapasitas perseptual dan pemrosesan
informasi, yang bekerja dalam konjungsi dalam skema batin tata bahasa.
b. Interaksi
Sosial dan Perkembangan Bahasa
Akhir-akhir ini
semakin jelaslah bahwa fungsi bahasa berkembang dengan baik di luar pikiran
kognitif dan struktur memori. Di sini tampak bahwa konstruktivis sosial
menekankan perspektif fungsional. Dalam model resiprokalnya tentang
perkembangan bahasa, Holzman (1984) menyatakan bahwa sebuah sistem behavioral
resiprokal bekerja di antara bahasa yang dikembangkan bayi-anak dan pengguna
bahasa dewasa yang kompeten di alam peran socializing-teaching-nurturing.
Beberapa penelitian mengkaji interaksi antara pemerolehan bahasa anak dan
pembelajaran tentang bagaimana sistem itu bekerja di dalam perilaku manusia.
Kajian yang lain tentang bahasa anak terpusat pada komunikasi interaksi bahasa,
yang merupakan kawasan kajian yang rawan, yakni fungsi bahasa dalam wacana. Bahasa
pada hakikatnya digunakan untuk komunikasi interaktif. Oleh sebab itu, kajian
yang cocok untuk itu adalah kajian tentang fungsi komunikatif bahasa. Apa yang
diketahui anak tentang berbicara dengan ank-anak yang lain? Tentang bulir-bulir
wacana yang berhubungan (hubungan antara kalimat-kalimat; interaksi antara
pendengar dan pembicara; isyarat percakapan. Dalam perspektif semacam itu,
jantung bahasa, fungsi pragmatic dan komunikatif dikaji dengan segala
variabilitasnya.
4. Isu penting
dalam Pembelajaran Bahasa
a.
Kompetensi dan Performansi
Kompetensi mengacu pada pengetahuan
yang mendasari sistem, peristiwa, atau tindakan. Kompetensi itu tidak dapat
diobservasi. Performansi merupakan perwujudan atau realisasi kompetensi yang
dapat diamati secara jelas. Kompetensi merupakan suatu perbuatan aktual seperti
berjalan, menyanyi, menari, dan berbicara. Dalam masyarakat teknologi perbedaan
kompetensi dan performansi digunakan dalam semua sisi kehidupan, misalnya,
diasumsikan anak-anak memiliki komptenesi tertentu bahwa kompetensi itu dapat
diukur dan dinilai dengan teknik observasi dari sampel yang dipilih dengan apa
yang disebut tes atau ujian.
b.
Komprehensi dan Produksi
Komprehensi dan produksi dapat
merupakan aspek performansi maupun kompetensi. Mitos yang tersebar selama ini
dalam pembelajaran bahasa adalah anggapan bahwa komprehensi, yakni menyimak dan
membaca, sama dengan kompetensi, dan produksi, yakni berbicara dan menulis sama
dengan performansi. Perlu diketahui bahwa masalah bukanlah demikian itu.
Produksi tentu saja dapat diamati secara lebih langsung, tetapi komprehensi
juga merupakan performansi seperti halnya produksi (kalau kita pinjam istilah
Ferdinand de Sassure adalah keinginan bertindak).
c.
Dasar versus Ajar (nature versus
nurture)
Kaum nativis yakin bahwa anak itu sejak
lahir sudah diberi bakat bawaan yang disebut piranti pemerolehan bahasa (language
acquisition device), atau tata bahasa universal (universal grammar). Hipotesis
bakat bawaan ini mungkin merupakan pemecahan masalah atas kontradiksi yang
berkembang dalam alirah behaviorisme yang menyatakan bahwa bahasa itu adalah
seperangkat kebiasaan yang dapat diperoleh melalui proses kondisioning dan
penguatan. Namun, harus diakui bahwa kondisioning semacam ini terlalu lamban
dan tidak efisien, serta kurang dapat dipertanggungjawabkan untuk sebuah proses
pemerolehan bahasa yang begitu kompleks.
d.
Kesemestaan
Linguis structural sangat yakin bahwa
bahasa itu dapat berbeda-beda satu dengan yang lain tanpa batas. Sebaliknya
linguis generatif transformasi yang dipelopori oleh Chomsky sangat percaya
bahwa ada kesemestaan bahasa, ada tata bahasa universal. Kalau tidak, bagaimana
seorang anak dapat belajar bahasa apapun yang dipajankan padanya? kenyataannya
anak-anak di dunia ini belajar bahasa dengan cara yang hampir sama. Anak-anak
memperoleh /p/ dan /b/, kemudian /t/ dan /d/ baru kemudian memperoleh /k/ dan
/g/. Begitu juga anak akan memproduksi kalimat satu kata dulu, baru dua kata,
dan kemudian tiga kata.
e.
Sistemasitas dan Variabilitas
Asumsi yang muncul dalam pemerolehan
bahasa anak adalah sistemasitas proses pemerolehan. Dari tata bahasa tumpu
(atau tata bahasa pivot) sampai pada ujaran tiga atau empat kata, serta sampai
pada kalimat lengkap yang hampir tak dapat ditentukan panjangnya, anak
menunjukan kemampuan yang luar biasa untuk menyususn kaidah tentang fonologi,
struktur, leksikal, serta semantik suatu bahasa. Proses belajar anak itu
bervariasi. Penguasaan bunyi-bunyi bahasa mungkin urutannya dapat diramalkan
dan bersifat universal. Tetapi, kapan anak memperoleh, tepatnya waktunya kapan,
dari anak sangat bervariasi.
f.
Bahasa dan Pikiran
Menurut pandangan behavioristik,
kognisi tak layak dibahas karena terlalu berbau mentalistik dan tidak dapat
diamati secara langsung. Padahal menurut Piaget (1972) perkembangan kognitif
merupakan organism manusia yang paling utama dan bahwa bahasa bergantung pada
dan bersemi karena perkembangan kognitif.
Isu yang penting di sini adalah
bagaimanakah bahasa itu mempengaruhi pikiran dan bagaimanakah pikiran itu juga
mempengaruhi bahasa. Yang jelas adalah bahwa bahasa itu ialah pandangan hidup
kita, bahasa adalah fondasi keberadaan kita, dan berinteraksi secara simultasn
dengan pikiran dan perasaan.
g.
Imitasi (Peniruan)
Penelitian menunjukkan bahwa anak
adalah peniru yang baik. Peniruan merupakan strategi yang penting yang
digunakan anak dalam pemerolehan bahasa. Kesimpulan itu tidak akurat dalam
tataran global. Memang, penelitian menunjukkan bahwa strategi peniruan
merupakan strategi yang banyak digunakan pada awal perkembangan bahasa anak.
BAB
III
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan teori, belajar
dan berbahasa pada anak itu berbeda beda
sesuai dengan yang dijelaskan dalam teori-teori tersebut, yaitu:
1. Teori Behaviorisme
Kaum behavioris berpendapat bahwa
bahasa merupakan bagian fundamental dari keseluruhan perilaku manusia. Pendapat
ini diperkuat oleh Jenkins dan Palermo (1964), yang menyatakan bahwa anak
mungkin memperoleh kerangka tata bahasa struktur frase dan belajar ekuivalensi
stimulus respon yang dapat diganti dalam tiap kerangka.
Dibagi menjadi dua:
a. Nativisme merupakan pembelajaran bahasa ditentukan oleh
bakat.
b. Kognitivisme merupakan semua bahasa, belajar
semantic bergantung pada perkembangan kognitif.
3. Teori Fungsional
Penelitian
bahasa anak-anak mulai memusatkan perhatiannya pada bagian linguistik yang
paling rawan, yakni fungsi bahasa dalam wacana.
Selain itu teori fungsional terbagi
menjadi:
a.
Kognisi dan
Perkembangan Bahasa
b.
Interaksi
Sosial dan Perkembangan Bahasa
Ada juga beberapa isu pentinmg yang berhubungan dengan
pembelajaran bahasa, yaitu:
a.
Kompetensi dan performasi
b.
Komprehensi
dan produksi
c.
Versus
dasar
d.
Tata
bahasa universal
e.
Sistematisitas
dan variabilitas
f.
Bahasa
dan pikiran
g.
Peniruan
(imitasi)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar